Langsung ke konten utama

KECILNYA DUNIA KITA

www.deftutorial.com
Galaksi yang kita tempati hanyalah satu dari seratus milyar galaksi lainnya yang tergabung dalam supercluster (kumpulan galaksi). Diperkirakan supercluster-supercluster ini membentuk gugusan-gugusan lebih besar yang belum diketahui di mana tepinya.



Mengapa Allah Swt. membenci orang sombong dan berbuat riya. Mengapa Allah SWT tidak menyukai orang yang merasa dirinya hebat, kuat, pintar, dan lebih sehingga menyepelekan orang lain? Sebaliknya, mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk rendah hati, bersujud, tunduk, dan patuh kepada-Nya.

Ada banyak jawaban atas pertanyaan ini. Namun tidak salah jika kita menyimak fakta-fakta berikut. Kita adalah salah satu “makhluk kecil” yang Allah SWT ciptakan, selain binatang, tumbuhan, bebatuan, air, dsb. Sehari-hari kita tinggal di sebuah tempat yang menjadi bagian kecil dari kota. Kota tempat kita berada adalah bagian kecil dari sebuah provinsi. Provinsi yang kita tinggali merupakan bagian kecil dari sebuah Negara. Negara kita pun hanyalah bagian kecil dari sebuah benua, dan benua yang kita tinggali merupakan satu dari lima benua yang berada di planet bumi. Lihat perbandingannya. Saat berada di dalam kamar misalnya, ukuran tubuh kita berasa begitu besar. Namun ketika berada di dalam aula, tubuh kita menjadi lebih kecil. Akan lebih kecil jika berada di sebuah lapangan sepak bola. Begitu juga, akan lebih kecil lagi, jika berada di sebuah kota, provinsi, Negara, dan benua. Keberadaan kita menjadi tiada berarti jika pembandingnya adalah planet bumi tempat kita berada saat ini.

[caption id="attachment_5" align="alignleft" width="300"]www.infohati.com Kedudukan Bumi dalam sistem tata surya[/caption]

Cerita belum usai. Ternyata, bumi hanyalah satu dari delapan planet anggota tata surya yang berputar mengelilingi matahari. Matahari pun hanya satu dari sekitar 100 milyar bintang yang tergabung dalam galaksi Bima Sakti (Milky Way). Dari jumlah sebanyak itu, hanya sekitar 6.000 bintang saja yang dapat kita amati dengan mata telanjang. Sekitar 300 di antaranya berada di atas horizon dan separuh ada di bawahnya.

Sesungguhnya, Bima Sakti bukan satu-satunya galaksi yang ada di alam semesta. Ada banyak sistem serupa yang mengisi setiap sudut langit sampai batas yang bisa dicapai oleh teleskop terbesar yang dimiliki manusia. Jumlah keseluruhan galaksi yang dapat dipotret dengan teleskop berdiameter 500 cm di Mt. Palomar (Amerika Serikat), mungkin sampai satu milyar galaksi. Hal yang menarik, galaksi kita pun hanyalah satu dari seratus milyar galaksi lainnya yang tergabung dalam supercluster (kumpulan galaksi). Diperkirakan supercluster-supercluster membentuk gugusan-gugusan lebih besar yang belum diketahui di mana tepinya.

Menurut para ilmuwan, diameter (garis tengah) alam semesta ini mencapai 30 milyar tahun cahaya. Artinya, jika cahaya ingin menyebrangi alam semesta dari tepi kiri ke tepi kanan, atau sebaliknya, dibutuhkan waktu selama 30 milyar tahun cahaya. Padahal, dalam satu detik saja, kecepatan cahaya itu mencapai 300.000 km. Dengan kecepatan 300.000 km/detik, dalam waktu satu tahun cahaya akan menmpuh jarak sekitar 9,5 juta km. Coba hitung, berapa kilometer diameter alam semesta ini dan dibandingkan dengan diameter bumi kita yang luasnya hanya 510,1 juta km persegi. Bandingkan pula, dengan keberadaan diri kita di alam semesta ini. Pastinya, sungguh tiada berarti diri ini, padahal, alam semesta yang tak terkira besarnya ini, hanya sedikit saja dari kekuasaan Allah SWT yang tiada terbatas. Masih ada alam-alam lain ciptaan Allah SWT yang jauh lebih hebat dan lebih besar.

Itu dari segi ukuran. Jika dilihat dari perspektif waktu hidup, pasti lain lagi ceritanya. Usia manusia biasanya tidak lebih dari seratus tahun. Usia harapan hidup biasanya 50-70 tahun. Sekarang, bandingkan dengan usia bumi kita yang berangka milyaran tahun. Batuan-batuan bumi yang tertua diperkirakan terbentuk sekita 4,6 milyar tahun. Bekas-bekas kehidupan di bumi yang tertua diperkirakan sekitar 3,8 milyar tahun. Kehidupan makahluk yang bernama manusia diperkirakan baru sekitar 100.000 tahun. Apalagi kalau dibandingkan dengan usia alam semesta yang konon sudah 15 milyar tahun. Menurut hitungan para ahli fisika, 70 tahun usia manusia sebanding dengan 0,15 detik usia kosmis (usia alam semesta). Asal tahu saja, 1 detik kosmis sama dengan 475 tahun. Bila usia 70 tahun saja sebanding dengan 0,15 detik, berapa detik orang yang berusia 20, 30, 40, atau 50 tahun?

Karena itu, kita layak merenungka firman Allah SWT. “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung”. Allah berfirman, “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui” (Q.S. Al-Mu’minuun [23]: 112-114). Ternyata, kita hidup hanya sekejap.

Melihat fakta-fakta ini, sangat tidak layak bagi kita berlaku sombong. Sungguh, manusia itu tidak ada apa-apanya. Dunia yang kita perjuangkan serta kita banggakan begiut kecil, tiada berarti dalam pandangan Allah. Plante bumi—di mana uang, rumah mewah, kebun, hewan ternak, mobil mewah, perusahaan, keturunan, jabatan, teman, tanah yang luas, lautan, danau, gunung, termasuk diri kita di dalamnya—hanya seserpih debufi tengah samudra bintang-bintang di alam semesta. Kita bisa mengungkap makna dari hadits, “Seandainya dunia itu berharga di sisi Allah, maka tak sefikit pun orang kafir akan mendapatkannya”. Saking tidak berharganya, Allah SWT berkenan memberikan bagian dunia kepada orang-orang kafir. Dalam pandangan Allah SWT, dunia beserta isinya tidak lebih berharga daripada sehelai sayap lalat.

Sekarang kita bisa memahami mengapa Rasulullah SAW dan para sahabat begitu mudah mendermakan harta yang dimilikinya untuk kebaikan. Dalam pandangan mereka, harta dunia tidak ada artinya dibandingkan keridhaan di sisi Allah SWT. kita pun paham akan makna sebuah hadits dari Rasulullah SAW bahwa, “Dua rakaat shalat fajar lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR Muslim dan At-Tirmidzi).Wallaahu a’lam.
Sumber :

Buku : "Ajaib bin Aneh : Jadi Insan Segala Tahu"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konfigurasi VLAN menggunakan Switch dan Router pada Packet Tracer

Masuk ke aplikasi Paket Tracer. Ikuti langkah-langkah berikut ini!  Konfigurasi IP Address Konfigurasi IP Address pada PC0 (klik PC0>Desktop>IP Configuration) Konfigurasi IP Address pada PC1 (klik PC1>Desktop>IP Configuration) Konfigurasi IP Address pada PC2(klik PC2>Desktop>IP Configuration) Konfigurasi IP Address pada PC3 (klik PC3>Desktop>IP Configuration) Konfigurasi pada Switch. Klik switch, pilih tab CLI. Tuliskan perintah berikut : Switch>enable Switch#vlan database Switch(vlan)#vlan 10 name A Switch(vlan)#vlan 20 name B Switch(vlan)#exit Switch#configure terminal Switch(config)#interface fastethernet 0/2 Switch(config-if)#switchport mode access Switch(config-if)#switchport access vlan 10 Switch(config-if)#interface fastethernet 0/3 Switch(config-if)#switchport mode access Switch(config-if)#switchport access vlan 10 Switch(config-if)#interface fastethernet 0/4 Switch(config-if)#switchport mode a...

COMPACT DISK SEMESTA

Jika kita mampu membuat compact disk atau hard disk sebagai media penyimpanan data, tentunya alam semesta pun memiliki mekanisme serta kapasitas yang sama. Beberapa waktu lalu, Dr. Masaru Emoto sempat “menggegerkan” dunia lewat penemuannya. Bersama Kazuya Ishibashi, pria asal Jepang ini berhasil mengidentifikasi kemampuan air yang dapat merespons serta merekam informasi dari sekitarnya, termasuk informasi yang disampaikan manusia. Air akan tampak “bahagia” jika diinformasikan hal-hal positif, sehingga struktur air pun akan membentuk Kristal-kristal air yang sangat indah. Tapi, air akan tampak “sedih” jika diinformasikan hal-hal negative, seperti cacian, kata-kata kasar, music heavy metal, dsb. Struktur air pun akan menjadi rusak dan tidak beraturan. Simpulannya, air memiliki kecerdasan. Pertanyaanya, jika air mampu merespons serta merekam informasi, bagaimana dengan unsur-unsur lain di alam? Apakah mereka pun memiliki kecerdasan untuk melakukan hal serupa. Jawabannya, ya! Tidak...

DUNIA KASAT MATA

Kita melihat sebuah kenyataan bahwa keberadaan Allah SWT yang absolut bisa dibuktikan dengan dua neutron yang ditabrakan sehingga bisa memasuki dimensi yang tidak bisa terlihat. Sampai tahun 1900-an, manusia masih beranggapan bahwa atom adalah materi terkecil yang ada di alam semesta ini. Atom dianggap tunggal dan tidak dapat dibagi-bagi lagi menjadi partikel-partikel yang lebih kecil. Wajar, jika atom dianggap sebagai materi terkecil, sebab ukurannya demikian kecil, yaitu sekitar 10 pangkat minus 10 atau 0,00000000001 meter. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, pemahaman ini berubah drastis. Diketahui bahwa atom tersusun atas partikel-partikel yang lebih kecil lagi, berupa inti atom (nucleus) yang diputari oleh “planet-planet” bernama elektron. Inti atom berukuran sekitar 10 pangkat minus 14 atau 0,00000000000001 meter. Hal yang menarik, tata kerja partikel-partikel ini mirip dengan sistem tata surya kita. Mahasuci Allah, ternyata inti atom pun tidak dapat berdiri se...